KALTIMOKE, BONTANG – Keberhasilan Kota Bontang menekan angka prevalensi stunting hingga 17,44 persen pada 2025 menjadi modal penting dalam upaya mewujudkan generasi yang lebih sehat dan berkualitas. Namun, Pemerintah Kota Bontang menilai capaian tersebut belum cukup dan perlu terus ditingkatkan melalui perubahan perilaku masyarakat.
Hal itu disampaikan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, saat membuka Orientasi Penguatan Komunikator Metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP) untuk Petugas Kesehatan Tahun 2026 di Ballroom Hotel Grand Equator, Rabu (3/6/2026).
Menurut Neni, berbagai intervensi yang telah dilakukan pemerintah selama ini terbukti mampu menurunkan angka stunting. Meski demikian, keberhasilan jangka panjang tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi juga kesadaran keluarga dalam menerapkan pola hidup sehat.
“Intervensi gizi tidak akan berjalan efektif tanpa perubahan kebiasaan sehari-hari di tingkat keluarga,” tegasnya.
Ia menjelaskan, bantuan seperti pemberian makanan tambahan maupun suplemen hanya bersifat sementara. Sementara keberhasilan pencegahan stunting sangat ditentukan oleh pola asuh orang tua, pemenuhan gizi anak, serta komitmen keluarga dalam menjaga kesehatan secara mandiri.
Karena itu, Pemerintah Kota Bontang terus memperkuat edukasi kesehatan melalui tenaga kesehatan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. Sebanyak 71 peserta dari puskesmas, rumah sakit, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana mengikuti pelatihan tersebut.
Neni juga menekankan pentingnya perhatian pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari kepatuhan remaja putri mengonsumsi tablet tambah darah, kesiapan calon pengantin menghadapi kehamilan sehat, hingga pemberian ASI eksklusif, imunisasi lengkap, dan makanan pendamping ASI yang bergizi.
Menurutnya, tenaga kesehatan dan kader di lapangan memiliki peran strategis dalam mengubah perilaku masyarakat karena menjadi pihak yang paling dekat dengan keluarga yang berisiko mengalami stunting.
“Metode Komunikasi Antar Pribadi hadir sebagai solusi untuk mengubah perilaku masyarakat secara persuasif, humanis, dan partisipatif,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, drg. Toetoek Pribadi Ekowati, menjelaskan bahwa kampanye perubahan perilaku merupakan salah satu pilar utama dalam Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021.
Melalui orientasi yang berlangsung selama dua hari tersebut, peserta dibekali kemampuan komunikasi yang efektif agar mampu menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat sesuai kondisi sosial dan budaya setempat.
Ke depan, Neni berharap pelatihan serupa juga dapat menjangkau kader posyandu di seluruh kelurahan sehingga Kota Bontang memiliki jaringan komunikator kesehatan yang kuat hingga tingkat RT untuk mendukung percepatan penurunan stunting.





