KALTIMOKE, BONTANG – Program pengelolaan sampah melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di Kota Bontang dinilai belum memberikan hasil maksimal. Tingkat keberhasilan yang masih di bawah 50 persen menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh, terutama terhadap infrastruktur dan pola pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Bontang, Muhammad Sahib, mengatakan pemerintah perlu menjadikan pembenahan TPS 3R sebagai prioritas. Menurutnya, keberadaan TPS 3R seharusnya mampu menjadi salah satu solusi untuk mengurangi sampah yang berakhir di tempat pengolahan akhir (TPA).
“Capaian TPS 3R kita masih di bawah 50 persen. Artinya, masih banyak yang harus dibenahi agar sistem ini benar-benar bisa mengurangi beban sampah di TPA,” kata Sahib, Kamis (20/8/2026).
Ia menyebut salah satu persoalan utama berada pada keterbatasan infrastruktur. Fasilitas yang belum memadai membuat proses pemilahan dan pengolahan sampah belum dapat berjalan secara optimal.
“Adapun infrastruktur di Kota Bontang, masih kurang. Ini harus kita akui. Kalau sarana dan prasarananya belum mendukung, pelaksanaan TPS 3R tentu tidak akan maksimal,” ujarnya.
Selain persoalan fasilitas, Sahib menilai keberhasilan pengelolaan sampah juga sangat bergantung pada kesadaran masyarakat. Pemilahan sampah sejak dari rumah dinilai penting agar sampah yang masuk ke TPS maupun TPA dapat ditekan.
Ia mendorong pemerintah memperkuat edukasi sekaligus membangun kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya. Dengan demikian, sampah yang masih memiliki nilai guna dapat diolah atau dimanfaatkan kembali sebelum masuk ke tempat pembuangan akhir.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat juga harus mulai membiasakan memilah sampah dari rumah. Kalau semua sampah langsung dibuang, beban TPS dan TPA akan terus bertambah,” jelasnya.
Sahib mengingatkan, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan menambah tempat pembuangan. Pertumbuhan volume sampah tanpa diikuti pengurangan dari sumber akan membuat kapasitas TPA semakin cepat mencapai batas.
“Kalau kita hanya mengandalkan TPA, suatu saat pasti penuh. Karena itu, pengurangan sampah dari sumber harus menjadi bagian utama dari sistem pengelolaan sampah di Bontang,” katanya.
Ia meminta DLH segera mengevaluasi TPS 3R yang telah berjalan, mengidentifikasi fasilitas yang masih kurang, serta menyusun langkah perbaikan yang terukur. Menurutnya, pembenahan harus dilakukan sebelum persoalan kapasitas TPA berkembang menjadi krisis.
“Kalau tidak segera dibenahi dari sekarang, jujur saja, kita tidak akan mampu menangani sampah di Bontang,” pungkasnya.







