KALTIMOKE, BONTANG – Pemerintah Kota Bontang menyiapkan langkah besar dalam pengembangan industri hilir kelapa sawit dengan mendorong pembangunan pabrik asam lemak (fatty acid) di kawasan industri strategis kota tersebut.
Proyek senilai Rp3,77 triliun itu diproyeksikan menjadi salah satu penggerak industri oleokimia nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor untuk kebutuhan manufaktur.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur mengatakan, asam lemak merupakan komponen penting dalam berbagai industri seperti kosmetik, sabun, detergen, plastik, tekstil, pelumas, hingga produk perawatan pribadi.
“Proyek ini ditargetkan mampu mendongkrak nilai tambah komoditas kelapa sawit Indonesia, sekaligus memangkas ketergantungan industri dalam negeri terhadap produk impor,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, peluang pasar industri oleokimia global masih sangat terbuka. Permintaan produk turunannya diperkirakan terus tumbuh sekitar 7 persen per tahun, terutama dari pasar Asia dan Eropa.
Selain itu, kata dia, Bontang dinilai memiliki modal kuat untuk masuk dalam rantai industri tersebut karena ditopang produksi crude palm oil (CPO) Kalimantan Timur yang mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.
“Pabrik itu nantinya dirancang memiliki kapasitas produksi 91,2 ribu ton asam lemak per tahun dengan kebutuhan bahan baku CPO sekitar 45 ribu ton per tahun,” tambahnya.
Sebagai bentuk kesiapan investasi, Pemkot Bontang telah menuntaskan skema investment project ready to offer (IPRO) yang ditawarkan kepada investor domestik maupun global.
Industri tersebut direncanakan berdiri di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) karena dinilai memiliki dukungan infrastruktur dan konektivitas logistik yang memadai.






