KALTIMOKE, BONTANG — Rapat Paripurna di lantai III Sekretariat DPRD Kota Bontang, Senin (30/3/2026), menjadi panggung penyampaian capaian pembangunan daerah oleh Wali Kota Neni Moerniaeni. Dalam forum yang dihadiri pimpinan dan anggota DPRD, unsur Forkopimda, serta para pemangku kepentingan, ia memaparkan Nota Pengantar Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025.
Dalam pidatonya, Neni menegaskan bahwa tahun 2025 menjadi titik balik kebangkitan ekonomi Kota Bontang. Setelah mengalami kontraksi pada tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi daerah berhasil berbalik arah dan mencatatkan angka positif sebesar 3,21 persen.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut tidak sekadar menunjukkan perbaikan angka, tetapi juga menandai transformasi struktur ekonomi. Sektor non-migas tumbuh signifikan sebesar 6,33 persen, mengindikasikan mulai berkurangnya ketergantungan pada sektor ekstraktif. Sejalan dengan itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bontang juga meningkat menjadi 83,04, masuk kategori sangat tinggi.
Perbaikan kesejahteraan masyarakat turut tercermin dari penurunan angka kemiskinan dan pengangguran. Jumlah penduduk miskin berkurang dari 7.110 jiwa pada 2024 menjadi 6.180 jiwa pada 2025, sementara tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 6,36 persen.
“Capaian ini menegaskan bahwa berbagai program pembangunan, khususnya di bidang ekonomi, mulai memberikan hasil nyata bagi masyarakat,” ujar Neni.
Di sektor keuangan, Pemerintah Kota Bontang mencatat realisasi pendapatan daerah sebesar Rp2,846 triliun atau 98,47 persen dari target perubahan APBD 2025 sebesar Rp2,890 triliun. Sementara itu, belanja daerah terealisasi Rp2,951 triliun yang difokuskan pada pembangunan infrastruktur dan peningkatan layanan publik.
Lebih lanjut, Neni memaparkan berbagai program strategis yang berdampak langsung pada masyarakat. Di sektor pendidikan, pemerintah menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada ribuan siswa serta dukungan perangkat teknologi bagi ratusan guru. Digitalisasi pendidikan juga didorong melalui distribusi papan tulis pintar dan tablet.
Di bidang kesehatan, capaian Universal Health Coverage (UHC) 100 persen memastikan seluruh warga mendapatkan akses layanan kesehatan. Program “Gercep Zero Stunting” turut diperkuat untuk menekan angka stunting melalui intervensi kepada keluarga berisiko.
Sementara itu, pembangunan infrastruktur terus digencarkan melalui pemasangan penerangan jalan, perluasan jaringan gas rumah tangga, serta peningkatan akses air bersih dan sanitasi. Penataan kawasan permukiman dan rehabilitasi rumah tidak layak huni juga menjadi prioritas.
Pada sektor ekonomi kerakyatan, dukungan terhadap UMKM diwujudkan melalui program Kredit Bontang Kreatif tanpa bunga dan pengembangan ratusan bank sampah sebagai bagian dari ekonomi berbasis lingkungan. Program sosial juga diperluas, termasuk peningkatan insentif penggiat agama dan jaminan sosial bagi pengurus RT.
Selain itu, penguatan sektor perikanan, pertanian, dan pariwisata terus dilakukan guna meningkatkan daya saing ekonomi lokal. Pengembangan destinasi wisata bahari seperti Bontang Kuala dan Beras Basah menjadi bagian dari strategi diversifikasi ekonomi daerah.
Kota Bontang juga mencatatkan capaian penting dengan status zero kemiskinan ekstrem serta pengoperasian belasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung program makan bergizi gratis. Upaya ketahanan pangan, pengembangan koperasi, hingga dukungan terhadap program strategis nasional terus diakselerasi.
Atas berbagai capaian tersebut, sepanjang 2025 Kota Bontang berhasil meraih 16 penghargaan di tingkat regional dan nasional, mencakup bidang tata kelola pemerintahan, keterbukaan informasi, hingga pembangunan berkelanjutan.
Di akhir penyampaiannya, Neni menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan daerah. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan untuk menghadapi tantangan ke depan.
“Kami menyadari bahwa keberhasilan ini adalah buah dari kolaborasi. Ke depan, sinergi harus terus diperkuat untuk mewujudkan Bontang yang lebih maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” tutupnya.





