KALTIMOKE, BONTANG – Sejumlah perwakilan kepala sekolah swasta di Bontang mengeluhkan soal rencana penambahan rombongan belajar (rombel) di dua sekolah SMA negeri di Bontang. Keluhan itu disampaikan pada Anggota DPRD Kaltim, Shemmy Permata Sari, dalam pertemuan yang berlangsung di kediamannya, Jalan Awang Long, Bontang, Jumat (10/4/2026).
Shemmy menjelaskan, para kepala sekolah khawatir penambahan rombel di sekolah negeri akan mengurangi jumlah siswa di sekolah swasta. Padahal, menurut mereka, terdapat aturan yang membatasi soal jumlah rombel di SMA negeri.
“Mereka meminta penambahan rombel itu dibatalkan karena dapat berdampak pada sekolah-sekolah swasta,” ujarnya, Jumat (10/4/2026) sore.
Dalam pertemuan itu, para kepala sekolah juga mengeluhkan penurunan jumlah siswa di beberapa sekolah swasta. Shemmy menyebut ada sekolah yang hanya memiliki 35 hingga 28 siswa dalam satu angkatan, bahkan satu sekolah hanya memiliki 15 siswa dalam tiga kelas.
“Tentu kami prihatin kalau seperti ini. Kalau jumlahnya segitu, jadi seperti PAUD. Kondisi di sekolah swasta ini mesti jadi perhatian. Kalau siswa mereka kurang, ini bisa berdampak ke guru juga, takutnya banyak yang jadi pengangguran,” kata politikus muda Partai Golkar ini.
Dalam pertemuan itu para kepala sekolah menekankan, penambahan rombel di SMA negeri bukan cuma berpotensi membuat guru kehilangan penghasilan. Lebih dari itu, sekolah juga bisa kesulitan memenuhi fasilitas yang menunjang pembelajaran di sekolah. Ini tak mengherankan, sebab sekolah swasta sangat bergantung dari SPP yang dibayarkan wali murid. Selain itu, mereka turut menyampaikan masalah insentif guru yang dinilai belum sesuai.
Meski bukan berada di Komisi IV DPRD Kaltim yang membidangi pendidikan, Shemmy berjanji akan meneruskan aspirasi tersebut. “Saya akan coba fasilitasi dan sampaikan ke teman-teman di Komisi IV. Kebetulan, di Wakil Ketua Komisi IV, kan, dokter Adi. Nanti saya coba dorong agar digelar RDP dengan menghadirkan Dinas Pendidikan dan Kesra juga perwakilan kepsek dari Bontang. Harus dirampungkan karena kasian, kan, jauh-jauh dari Bontang,” ujarnya.
Sedikitnya sembilan hingga sepuluh perwakilan sekolah swasta hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka berharap pemerintah provinsi memberi perhatian agar penambahan rombel SMA negeri tidak menggunakan ruang yang tidak diperuntukkan bagi penambahan siswa baru.







