KALTIMOKE, BONTANG – Anggota DPRD Kota Bontang, Nursalam, mempertanyakan tren penurunan dividen dari Bank Pembangunan Daerah (Bank Kaltimtara) di tengah kondisi fiskal Kota Bontang yang semakin terbatas.
Nursalam mengungkapkan, Pemerintah Kota Bontang memiliki penyertaan modal sekitar Rp133 miliar di bank tersebut.
Namun, dividen yang diterima pada anggaran 2025 yang dijalankan 2026 hanya sekitar Rp3,3 miliar.
Ia menilai angka tersebut perlu dikaji kembali karena nilai penyertaan modal yang cukup besar seharusnya dapat memberikan kontribusi lebih optimal terhadap pendapatan asli daerah (PAD).
“Uang kita di sana Rp133 miliar, tetapi dividen yang kita dapat hanya sekitar Rp3,3 miliar,” ujar Nursalam dalam rapat paripurna DPRD Bontang, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, dividen Bank Kaltim yang diterima Bontang terus mengalami penurunan. Beberapa tahun sebelumnya, dividen disebut masih berada di kisaran Rp12 miliar, kemudian turun menjadi Rp7 miliar, Rp4 miliar, hingga Rp3,3 miliar.
Bahkan, berdasarkan pembahasan dengan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKD), dividen tersebut diperkirakan kembali turun menjadi sekitar Rp2,5 miliar pada anggaran berikutnya.
Nursalam menilai kondisi tersebut patut menjadi perhatian serius karena kemampuan fiskal daerah sedang menghadapi tekanan.
Ia mendorong DPRD bersama Pemkot Bontang berdialog dengan Bank Kaltim untuk mengetahui penyebab penurunan dividen secara lebih transparan.
“Perlu dilakukan dialog ataupun desakan kepada Bank Kaltim untuk memberikan penjelasan. Kita harus mencari tahu kenapa setiap tahun dividen kita mengalami penurunan,” katanya.
Ia juga mempertanyakan alasan yang selama ini menyebut posisi Bontang berada di peringkat ketujuh dari 10 kabupaten/kota berdasarkan nilai penyertaan sebagai salah satu faktor penurunan dividen.
Selain itu, dia juga mengingatkan, penyertaan modal daerah harus memberikan manfaat maksimal bagi keuangan daerah, terlebih ketika PAD Bontang mengalami penurunan.
“Jangan sampai ketika kondisi fiskal kita melemah, potensi PAD yang kita miliki justru tidak bisa kita maksimalkan,” pungkasnya.






