Sahib Desak Pemkot Perkuat Pencegahan, Kehamilan Remaja di Bontang Capai 59 Kasus

by
Anggota DPRD Kota Bontang, Muhammad Sahib

KALTIMOKE, BONTANG – Meningkatnya angka kehamilan pada usia remaja di Kota Bontang menjadi perhatian serius DPRD Kota Bontang. Anggota DPRD, Muhammad Sahib, meminta pemerintah daerah segera memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi yang masif, pendataan terpadu, serta pelibatan seluruh elemen masyarakat.

Menurut Sahib, persoalan tersebut tidak bisa dipandang sebagai kasus biasa karena menyangkut masa depan generasi muda dan kualitas sumber daya manusia di daerah.

Berdasarkan data yang diperoleh dari praktik dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG) dr. Pakhruzzabadi, tercatat sebanyak 59 remaja mengalami kehamilan sepanjang Januari hingga Mei 2026. Mayoritas berusia di bawah 20 tahun, bahkan terdapat korban termuda berusia 12 tahun akibat persetubuhan.

“Ini sudah darurat. Angkanya mencapai 59 kasus hanya dari satu sumber data. Artinya, kemungkinan jumlah sebenarnya bisa lebih banyak. Semua pihak harus terlibat menangani persoalan ini,” ujar Sahib, Senin (6/7/2026).

Ia menilai upaya pencegahan tidak dapat hanya dibebankan kepada satu organisasi perangkat daerah. Pemerintah, sekolah, keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga lingkungan sekitar harus berperan aktif dalam memberikan perlindungan kepada anak-anak dan remaja.

Sahib juga mendorong pemerintah mengoptimalkan peran dinas yang membidangi perlindungan perempuan dan anak untuk secara rutin melakukan edukasi di sekolah-sekolah.

“Minimal satu bulan sekali dinas terkait harus turun ke SMP dan SMA memberikan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, bahaya seks bebas, dan dampak kehamilan usia anak. Kalau memang diperlukan, pendidikan seksual harus mulai diperkenalkan di sekolah,” katanya.

Politisi tersebut menilai tingginya angka kehamilan remaja menjadi evaluasi bagi Kota Bontang yang selama ini menyandang predikat Kota Layak Anak.

“Jangan sampai kita bangga dengan predikat Kota Layak Anak, tetapi faktanya kasus seperti ini terus meningkat. Ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera bertindak,” tegasnya.

Selain tingginya angka kehamilan, data yang dipaparkan juga menunjukkan dampak kesehatan yang serius. Dalam satu bulan terakhir tercatat enam ibu berusia anak melahirkan. Dua bayi lahir dalam kondisi sehat dengan berat badan di atas dua kilogram, sedangkan dua bayi lainnya meninggal dunia akibat berat badan lahir yang sangat rendah.

Tak hanya itu, empat kasus lainnya diketahui setelah korban datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena mengalami nyeri perut hebat dan perdarahan. Setelah dilakukan pemeriksaan, para remaja tersebut ternyata sedang hamil dan memasuki proses persalinan.

Untuk menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran, Sahib meminta pemerintah menghimpun data kehamilan remaja dari seluruh rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga fasilitas kesehatan lainnya.

“Kalau datanya lengkap, pemerintah bisa memetakan wilayah mana yang paling banyak kasusnya, kelompok usia yang paling rentan, hingga faktor penyebabnya. Dari situ program pencegahan bisa tepat sasaran, bukan sekadar sosialisasi tanpa arah,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa kehamilan pada usia anak berisiko meningkatkan angka kematian ibu dan bayi, kelahiran prematur, anemia, hingga stunting akibat berat badan lahir rendah.

“Jangan sampai kondisi ini terus berulang. Kita harus bergerak bersama agar tidak ada lagi anak-anak Bontang yang menjadi korban. Pemerintah harus tegas, masyarakat juga harus peduli, dan orang tua harus lebih mengawasi anak-anaknya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.