KALTIMOKE, BONTANG – Isu keterbatasan anggaran hingga meningkatnya kompleksitas persoalan sosial menjadi perhatian utama dalam rapat rutin Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bontang yang digelar di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bontang, Jumat (24/4). Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, forum ini tetap menegaskan komitmennya menjaga stabilitas dan harmoni di tengah masyarakat.
Ketua FKUB Bontang, Mulkan Adzima, menilai bahwa tantangan kerukunan saat ini semakin beragam dan tidak lagi sebatas perbedaan keyakinan. Ia menyoroti potensi penyimpangan aliran keagamaan, ancaman radikalisme yang menyasar generasi muda, hingga persoalan konflik sosial dan kenakalan remaja yang perlu mendapat perhatian serius.
“Penanganan isu sensitif tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak untuk melakukan deteksi dini agar gesekan di tingkat akar rumput bisa diredam sebelum membesar,” tegas Mulkan.
Selain itu, FKUB juga tengah mempersiapkan diri menghadapi agenda besar tingkat provinsi yang akan digelar di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Juni mendatang, sebagai bagian dari upaya memperkuat koordinasi lintas daerah.
Di tengah keterbatasan operasional dan tingginya beban kerja, semangat kolaborasi antarumat beragama tetap menjadi kekuatan utama FKUB dalam menjalankan perannya.
Staf Ahli Pemerintahan dan Hukum, Anwar Sadat, yang hadir mewakili Wali Kota, mengapresiasi kondisi Kota Bontang yang dinilai masih kondusif.
“FKUB ini memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga keharmonisan masyarakat,” ujarnya.
Menanggapi keterbatasan anggaran, Anwar mengakui adanya penyesuaian akibat prioritas pembangunan di berbagai sektor. Namun, ia menekankan pentingnya inovasi agar upaya menjaga stabilitas sosial tetap berjalan optimal.
“Penanganan konflik harus dilakukan secara cepat dan tepat. Kondusivitas adalah kunci utama. Jika kota aman, pembangunan lancar dan ekonomi daerah akan tumbuh lebih cepat,” timpalnya.





