KALTIMOKE, BONTANG – Pemerintah Kota Bontang terus menegaskan komitmennya dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul sebagai penopang pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Salah satu langkah yang kini digencarkan adalah penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Komitmen tersebut tercermin dalam kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Berbasis Komponen Akreditasi Tahun 2026, yang digelar di Gedung Mini Teater Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bontang, Jalan HM Ardans, Bontang Selatan, Selasa (14/4/2026) pagi. Kegiatan ini dibuka oleh Staf Ahli Pembangunan, Kemasyarakatan, dan SDM (PKSDM) Lukman, yang mewakili Wali Kota Bontang.
Sebelum acara dibuka secara resmi, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Retno Febriaryanti, selaku penyelenggara kegiatan, menyampaikan laporan pelaksanaan. Ia menjelaskan bahwa sosialisasi ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Adriati dari Perpustakaan Nasional RI yang mengikuti secara daring, Kepala SDN 003 Bontang Utara Abdillah, serta Ketua ATPUSI Kota Bontang Ari Fajar Ani.
Kegiatan ini melibatkan kepala sekolah tingkat SD dan SMP serta para pengelola perpustakaan sekolah se-Kota Bontang. Turut hadir mendampingi, Kepala Bidang Perpustakaan DPK Kota Bontang, Indra Nopika Wijaya.
Dalam laporannya, Retno menekankan bahwa keterlibatan para pemangku kepentingan pendidikan ini diharapkan mampu memperkuat pengelolaan perpustakaan di setiap satuan pendidikan, sekaligus meningkatkan kualitas layanan literasi di sekolah.
Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi kolaboratif pemerintah daerah dalam memperkuat kualitas pendidikan di tengah posisi strategis Bontang sebagai daerah mitra IKN.
Dalam sambutan mewakili Wali Kota, Lukman menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan merupakan fondasi utama untuk memastikan Bontang tidak tertinggal dalam arus pembangunan nasional, khususnya terkait IKN.
“Bontang tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi bagian penting dalam pembangunan IKN. Kunci utamanya ada pada kualitas SDM, dan itu sangat ditentukan oleh pendidikan,” ujarnya.
Ia menyoroti peran perpustakaan sekolah yang menurutnya tidak lagi bisa dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai pusat utama penggerak literasi di lingkungan pendidikan.
“Perpustakaan adalah jantung literasi. Dari sanalah tumbuh generasi yang cerdas, adaptif, dan inovatif,” katanya.
Lukman juga mendorong adanya transformasi perpustakaan agar mampu mengikuti perkembangan era digital, sehingga akses pengetahuan bagi siswa menjadi lebih luas dan inklusif.
“Tidak cukup hanya dengan buku fisik. Perpustakaan harus mampu menghadirkan layanan berbasis teknologi agar informasi bisa diakses lebih cepat dan merata,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan perpustakaan perlu dilakukan secara profesional dan berkelanjutan, mulai dari penguatan koleksi, peningkatan layanan, hingga pengembangan kompetensi pengelola.
Lebih jauh, ia menilai akreditasi perpustakaan harus dimaknai sebagai instrumen peningkatan mutu, bukan sekadar pemenuhan administrasi.
“Akreditasi adalah tolok ukur kualitas layanan. Dari situ kita bisa menilai apakah sudah sesuai standar nasional atau belum,” jelasnya.
Di akhir sambutan, Lukman mengajak seluruh kepala sekolah untuk memperkuat komitmen dalam membangun budaya literasi di sekolah masing-masing.
“Dengan kolaborasi dan komitmen yang kuat, kita optimistis dapat mewujudkan perpustakaan sekolah yang unggul dan mampu melahirkan generasi berdaya saing,” pungkasnya.





