KALTIMOKE, BONTANG – Maraknya kasus serangan buaya terhadap warga dalam beberapa bulan terakhir menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bontang. Dalam kurun waktu lima bulan terakhir, tercatat sedikitnya lima warga menjadi korban, bahkan satu di antaranya meninggal dunia.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyampaikan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Taman Nasional Kutai (TNK) terkait penanganan buaya yang kerap muncul di kawasan pesisir dan permukiman warga.
“Untuk buaya di sana kita akan koordinasi dengan Taman Nasional Kutai, harus ditangani seperti apa. Habitat mereka memang di sekitar situ, tapi manusia juga tinggal di sekitar situ. Nanti kalau bisa ditangkar, ya kita tangkar saja,” ujar Neni Minggu, (1/3/2026).
Menurutnya, perlu langkah komprehensif agar konflik antara satwa liar dan manusia tidak terus berulang, mengingat sebagian wilayah pesisir Bontang memang berbatasan langsung dengan habitat alami buaya muara.
Ia juga mengimbau para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, khususnya agar tidak berenang di kawasan Selambai dan pesisir yang diketahui menjadi lokasi kemunculan buaya.
“Saya minta orang tua agar mengawasi anak-anaknya, jangan berenang di Selambai. Kalau bisa RT dan lurah, khususnya di Selambai, terlibat untuk sosialisasi ke warganya agar tidak berenang di sekitar pesisir yang banyak buayanya,” tegasnya.
Diketahui, dalam lima bulan terakhir, sejumlah insiden serangan buaya terjadi di berbagai wilayah Bontang.
Pada Kamis (23/10/2025), seorang warga di Gang Arwana I, Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kecamatan Bontang Selatan, menjadi korban gigitan buaya.
Selanjutnya, pada Senin (24/11/2025), seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun selamat setelah diserang buaya sepanjang kurang lebih dua meter di pesisir Kota Bontang.
Tragedi paling memilukan terjadi pada Jumat (26/12/2025) sore. Seorang warga lanjut usia di Perumahan Bumi Sekatup Damai (BSD), Kelurahan Gunung Elai, diserang buaya. Korban sempat menjalani perawatan dan berjuang selama empat hingga lima hari sebelum akhirnya meninggal dunia pada Selasa (30/12/2025).
Selanjutnya, kejadian pada Kamis (22/1/2026) sekitar pukul 21.30 Wita. Seorang pemuda di Kelurahan Loktuan menjadi korban serangan buaya saat hendak buang air besar di belakang rumahnya alami 30 jahitan di Paha.
Insiden terbaru bocah berusia 11 tahun di RT 08, Kelurahan Loktuan, Kota Bontang, yang diterkam buaya muara saat berenang, Sabtu (28/2/2026).
Rentetan kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama warga yang tinggal di kawasan pesisir dan bantaran sungai.
Meningkatnya interaksi antara manusia dan buaya diduga dipicu oleh semakin padatnya permukiman di wilayah pesisir yang berdekatan dengan habitat satwa liar tersebut. Selain itu, aktivitas warga di tepi laut dan sungai pada malam hari dinilai meningkatkan risiko serangan.
Pemerintah Kota Bontang bersama pihak terkait diharapkan segera merumuskan langkah konkret, baik melalui penangkaran, relokasi, pemasangan rambu peringatan, hingga patroli rutin di kawasan rawan.
Sementara itu, masyarakat diminta untuk lebih waspada dan menghindari aktivitas di perairan terbuka, terutama pada sore hingga malam hari, guna mencegah bertambahnya korban.







