KALTIMOKE, KALTIM – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur terus meningkat sepanjang 2026. Hingga 11 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat 218 kejadian Karhutla yang tersebar di 10 kabupaten/kota.
Total luas area yang terdampak kebakaran mencapai 1.287,9287 hektare, terdiri dari sekitar 443,6187 hektare lahan, 831,50 hektare hutan, dan 12,81 hektare kebun.
Koordinator Pusdalops BPBD Kaltim, Cahyo Kristanto, mengatakan jumlah tersebut merupakan akumulasi kejadian yang dihimpun sepanjang 2026 hingga 11 Agustus.
“Kebakaran itu sampai dengan sekarang memang 218 kejadian. Kami temukan pelaporan yang terdata sampai dengan tanggal 11 Agustus 2026 hari ini,” ujar Cahyo, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, peningkatan kasus Karhutla mulai terlihat signifikan memasuki pertengahan tahun. Hingga akhir Juli, tercatat sekitar 125 kejadian, sementara sepanjang awal Agustus terdapat tambahan sekitar 70 kejadian.
Cahyo menyebut kondisi tersebut tidak terlepas dari musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan lingkungan semakin kering sehingga api lebih mudah muncul dan menyebar.
“Dari awal tahun itu kami himpun terdapat 830-an hektare,” katanya.
Kutai Timur Catat Luasan Terbesar. Berdasarkan data BPBD Kaltim, sejumlah daerah mencatat kejadian Karhutla cukup tinggi. Kutai Barat menjadi salah satu daerah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 37 kejadian dengan luas sekitar 191,995 hektare.
Kemudian Paser mencatat 34 kejadian dengan luas sekitar 93,932 hektare. Samarinda juga mencatat sejumlah kejadian dengan luasan sekitar 26,65 hektare.
Sementara itu, Penajam Paser Utara tercatat 29 kejadian, Berau dan Kutai Kartanegara masing-masing 28 kejadian, Balikpapan 11 kejadian, Kutai Timur 9 kejadian, serta Bontang 8 kejadian.
Namun, dari sisi luas area terbakar, Kutai Timur menjadi wilayah dengan luasan terbesar, yakni mencapai sekitar 810,05 hektare. Sebagian besar area tersebut merupakan kawasan hutan dengan luas sekitar 800 hektare.
Cahyo menjelaskan, penanganan Karhutla di kawasan perkotaan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran yang terjadi di kawasan hutan maupun wilayah terpencil.
Akses menuju lokasi menjadi salah satu tantangan karena sejumlah titik kebakaran berada jauh dari permukiman dan sulit dijangkau oleh petugas maupun kendaraan pemadam.
“Untuk sementara asumsi kita memang dari panas bumi, karena juga lahannya rata-rata gambut,” jelasnya.
Kemarau Panjang Tingkatkan Risiko Kebakaran. BPBD Kaltim juga terus mewaspadai kondisi cuaca kering yang dapat meningkatkan potensi Karhutla. Terlebih, adanya peringatan mengenai potensi fenomena El Niño yang dapat memicu kondisi lebih kering di sejumlah wilayah.
Cahyo mengatakan dampak kondisi tersebut mulai dirasakan sejak Juli 2026, ketika suhu dan tingkat kekeringan meningkat.
“Mulai Juli kemarin, dampak dari El Niño ini sudah kita rasakan,” ucapnya.
Kondisi tanah yang semakin kering membuat api lebih mudah menyebar, terutama pada kawasan yang memiliki vegetasi mudah terbakar. Karena itu, BPBD Kaltim mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki potensi Karhutla tinggi.
Dengan meningkatnya jumlah kejadian hingga Agustus, koordinasi antara BPBD, pemerintah daerah, aparat, relawan, dan masyarakat menjadi semakin penting untuk mempercepat deteksi serta penanganan kebakaran sebelum meluas.






