KALTIMOKE, BONTANG – Pengembangan sektor pariwisata Kota Bontang dinilai masih menghadapi persoalan serius, mulai dari akses, regulasi hingga kewenangan pengelolaan kawasan.
Anggota DPRD Bontang, Rustam, menyebut kondisi tersebut membuat destinasi wisata Bontang sulit berkembang menjadi tujuan wisata yang lebih luas.
Rustam mengatakan selama ini wisata Bontang masih didominasi wisata lokal dan regional Kalimantan Timur. Padahal, Bontang memiliki sejumlah destinasi yang berpotensi dikembangkan, seperti Bontang Kuala, Beras Basah dan kawasan Marang.
“Wisata kita ini sebenarnya hanya wisata lokal. Sejauh-jauhnya Kalimantan Timur,” kata Rustam saat di temui, Selasa (8/9/2026).
Salah satu persoalan yang disorot adalah status kawasan perairan dan pembagian kewenangan antara pemerintah kota dan provinsi.
Menurutnya, persoalan tersebut harus segera diselaraskan melalui regulasi, termasuk Perda RTRW.
Dia menyebut pengelolaan Beras Basah menjadi salah satu contoh yang membutuhkan kepastian.
Pemerintah provinsi disebut telah memberikan persetujuan terkait pengelolaan oleh Kota Bontang, namun menurutnya masih ada pertanyaan lanjutan mengenai sejauh mana pemerintah kota dapat melakukan investasi dan pengembangan fasilitas wisata.
“Masalahnya pengelolaan ini kalau dijabarkan panjang lagi. Apakah dengan mengelola kita bisa investasi, Aturan itulah yang menjadi masalah,” jelasnya.
Ia berharap pembahasan RTRW dapat menjadi momentum untuk menyelaraskan kewenangan antara pemerintah kota dan provinsi.
Selain itu, dia menilai Bontang sebenarnya memiliki peluang mengembangkan pariwisata, tetapi membutuhkan keberanian pemerintah untuk membenahi regulasi, akses, hingga konsep pengelolaan kawasan.
“Jangan hanya punya objek wisata. Kalau akses dan regulasinya masih bermasalah, bagaimana wisata kita mau maju” tegasnya.







