KALTIMOKE, BONTANG — Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Bahtiar Mabe, menegaskan bahwa penanganan stunting masih membutuhkan kerja keras meskipun tren penurunan mulai terlihat sepanjang tahun 2025. Hal tersebut disampaikan berdasarkan hasil evaluasi kegiatan penimbangan balita yang rutin dilakukan di berbagai layanan kesehatan.
Menurut Bahtiar, capaian penimbangan serentak menunjukkan hasil maksimal. Pada periode awal tahun 2025, target sebanyak 10 ribu balita berhasil dicapai hingga 100 persen. Begitu pula pada penimbangan serentak di bulan November dengan sasaran lebih dari 9 ribu balita, yang juga mencapai angka 100 persen.
Namun, capaian berbeda justru terlihat pada penimbangan rutin bulanan di puskesmas yang dinilai masih sulit menyentuh angka partisipasi penuh. “Kalau penimbangan bulanan di puskesmas itu masih sulit mencapai 100 persen,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa secara umum masyarakat sebenarnya sudah memahami pentingnya pencegahan stunting. Meski demikian, masih ada kendala berupa rendahnya partisipasi sebagian orang tua yang enggan membawa anaknya untuk ditimbang secara rutin.
“Progres kasus stunting baru itu sedikit saja. Artinya, pemahaman masyarakat sudah ada, hanya saja ada yang masih malas membawa anaknya,” katanya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Diskes Bontang berencana mengubah strategi pada tahun ini. Jika metode penimbangan bulanan masih belum optimal, pihaknya akan mengintensifkan skema penimbangan serentak setiap tiga bulan.
Bahtiar menegaskan bahwa deteksi stunting sebenarnya tidak sulit jika tiga kelompok utama mendapat perhatian serius, yakni ibu hamil, calon pengantin, dan remaja putri. Ketiga kelompok ini dinilai menjadi kunci dalam pencegahan stunting sejak dini.
“Ibu hamil harus mendapatkan tablet penambah darah, asupan susu, dan makanan bergizi. Calon pengantin juga perlu diberikan literasi kesehatan serta tablet penambah darah. Begitu juga dengan remaja putri,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa pengawasan terhadap remaja putri. Banyak di antara mereka yang kurang disiplin mengonsumsi suplemen karena alasan rasa yang kurang nyaman.
“Padahal itu bukan untuk saat ini saja, tapi untuk masa depan mereka,” tegasnya.
Bahtiar juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi dan mengingatkan remaja putri agar tetap menjaga kesehatan, terutama dalam upaya pencegahan stunting jangka panjang.
Dengan strategi baru dan keterlibatan semua pihak, Diskes Bontang optimistis upaya penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif ke depan.





