KALTIMOKE, BONTANG – Upaya membangun Kota Bontang tidak hanya bertumpu pada program fisik dan kebijakan pemerintah, tetapi juga kekuatan spiritual masyarakat. Hal ini tercermin dalam kehadiran Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, pada kegiatan Mujahadah Rubu’ussanah dan Doa Bersama dalam rangka Halalbihalal Wahidiyah Kota Bontang yang digelar di Sekretariat Yayasan Perjuangan Wahidiyah, Jumat (10/4/2026) malam.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Provinsi Kalimantan Timur Marcel Parayu Indrawarman, Ketua Departemen Penyiaran dan Pembinaan Wahidiyah Kaltim Choirul Anam, Ketua YPW Kota Bontang Suwarno, serta penceramah H. Ubaidillah dari Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri.
Dalam sambutannya, Agus Haris menekankan bahwa Mujahadah Rubu’ussanah bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan bagian penting dari pembentukan karakter masyarakat. Menurutnya, kekuatan batin dan kejernihan hati memiliki peran besar dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.
“Ibarat menjernihkan air di hulu, ketika hati bersih maka perilaku dan kehidupan sosial juga akan jernih. Dari sinilah lahir masyarakat yang damai, rukun, dan penuh kepedulian,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan nilai-nilai spiritual tersebut dengan capaian pembangunan Kota Bontang sepanjang 2025. Pemerintah mencatat penurunan angka kemiskinan menjadi 3,21 persen, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) hingga 83,04, serta penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 6,36 persen.
Menurutnya, capaian ini tidak lepas dari berbagai program strategis seperti bantuan perlengkapan sekolah, penyediaan laptop bagi tenaga pendidik, program Gercep Zero Stunting, hingga layanan kesehatan gratis.
Namun demikian, Agus Haris menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
“Ulama, organisasi keagamaan seperti Wahidiyah, dan seluruh lapisan masyarakat adalah simpul penting. Pembangunan yang kuat tidak hanya dibangun dengan fisik, tetapi juga dengan doa dan kebersihan hati,” tegasnya.







