KALTIMOKE, BONTANG — Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang mencatat realisasi investasi pada Triwulan I Tahun 2026 mencapai Rp796,77 miliar. Angka tersebut setara dengan 23,95 persen dari target Rencana Strategis (Renstra) atau 23,25 persen dari target yang ditetapkan DPMPTSP Provinsi Kalimantan Timur.
Kepala DPMPTSP Bontang, Muhammad Aspiannur, menyampaikan bahwa target investasi tahun 2026 mengalami peningkatan. Berdasarkan Renstra, target naik sebesar 8 persen dari capaian tahun 2025. Sementara itu, pemerintah provinsi menetapkan kenaikan lebih tinggi, yakni 11,24 persen dari realisasi 2025 yang mencapai Rp3,08 triliun.
“Capaian triwulan pertama ini menunjukkan tren positif sebagai awal tahun. Namun kami tetap akan mendorong percepatan realisasi investasi di triwulan berikutnya agar target tahunan dapat tercapai,” ujar Aspiannur, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan, pihaknya terus memperkuat pelayanan perizinan serta melakukan pendampingan kepada pelaku usaha agar proses investasi berjalan lebih cepat dan efisien.
“Selain itu, kami juga berupaya meningkatkan kepatuhan pelaporan LKPM oleh perusahaan. Ini penting untuk memastikan data investasi yang akurat sekaligus sebagai dasar pengambilan kebijakan,” katanya.
Dari total realisasi investasi tersebut, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi dengan nilai Rp707,31 miliar atau 88,77 persen. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp89,46 miliar atau 11,23 persen.
Sektor industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi menjadi kontributor terbesar investasi PMDN dengan nilai Rp543,21 miliar atau 76,80 persen. Disusul sektor konstruksi sebesar Rp49,21 miliar (6,96 persen), perdagangan dan reparasi Rp48,56 miliar (6,87 persen), industri logam dasar Rp28,66 miliar (4,05 persen), serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi Rp19,40 miliar (2,74 persen).
Sementara itu, realisasi PMA hanya berasal dari dua sektor usaha. Hampir seluruhnya berasal dari industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi dengan kontribusi mencapai 99,99 persen atau Rp89,45 miliar, yang didominasi oleh PT Kaltim Methanol Industri asal Jepang. Sisanya berasal dari sektor usaha hotel dan restoran sebesar Rp5 juta.
Dari sisi kepatuhan pelaporan, tingkat penyampaian Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) oleh perusahaan non-UMK tercatat masih berada di angka 50,94 persen. Dari total 212 perusahaan yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), hanya 108 perusahaan yang melaporkan kegiatan investasinya pada Triwulan I 2026.
“Ke depan kami akan meningkatkan koordinasi dan sosialisasi kepada pelaku usaha agar tingkat kepatuhan LKPM bisa lebih optimal,” tambah Aspiannur.
Secara wilayah, investasi masih terpusat di Bontang Utara dengan nilai Rp783,32 miliar atau 98,31 persen dari total realisasi. Bontang Selatan menyusul dengan Rp12,24 miliar (1,54 persen), sedangkan Bontang Barat mencatat Rp1,20 miliar (0,15 persen).
Dominasi investasi di Bontang Utara didorong oleh sektor industri kimia dasar dan farmasi. Sementara Bontang Selatan lebih banyak ditopang sektor perumahan dan kawasan industri, serta Bontang Barat oleh sektor restoran.
Dari sisi ketenagakerjaan, realisasi investasi pada Triwulan I 2026 mampu menyerap 939 tenaga kerja Indonesia. Rinciannya, 920 tenaga kerja berasal dari PMDN dan 19 tenaga kerja dari PMA.





