KALTIMOKE, BONTANG – Pemerintah Kota Bontang, menyiapkan kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang sebagai pusat pengembangan industri asam lemak (fatty acid) yang diproyeksikan menjadi salah satu penggerak hilirisasi kelapa sawit nasional.
Pemilihan KIE Bontang sebagai lokasi pembangunan pabrik bukan tanpa alasan. Kawasan industri tersebut dinilai memiliki keunggulan strategis dari sisi konektivitas, infrastruktur, hingga dukungan utilitas industri yang lengkap untuk menunjang aktivitas manufaktur skala besar.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang Muhammad Aspiannur mengatakan, proyek industri fatty acid sengaja diarahkan ke KIE Bontang karena kawasan itu memiliki akses distribusi yang sangat mendukung kebutuhan ekspor maupun pasar domestik.
“Lokasi ini sangat strategis karena dekat dengan Pelabuhan Lok Tuan dan Pelabuhan LNG Badak, sehingga mempermudah distribusi bahan baku maupun pengiriman produk ke pasar nasional dan internasional,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Selain akses pelabuhan, kawasan tersebut juga telah didukung pasokan listrik hingga 80 MW, fasilitas air bersih, jaringan telekomunikasi, nitrogen, hingga sistem pengolahan limbah terpadu. Ketersediaan lahan industri yang luas juga menjadi nilai tambah bagi investor.
Aspiannur menjelaskan, pabrik fatty acid nantinya akan dibangun di atas area pengolahan seluas 5 hektare, ditambah area penyimpanan bahan baku dan produk mencapai 15 hektare.
Menurutnya, Bontang memiliki peluang besar menjadi pusat industri hilir oleokimia karena ditopang ketersediaan crude palm oil (CPO) di Kalimantan Timur yang mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.
“Hilirisasi ini dipilih karena permintaan produk oleokimia dunia terus meningkat. Produk turunannya digunakan di berbagai industri seperti kosmetik, sabun, detergen, tekstil, plastik, hingga pelumas,” katanya.
Pabrik tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 91,2 ribu ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku CPO sekitar 45 ribu ton per tahun. Selain memperkuat posisi Bontang sebagai kota industri, proyek ini juga diproyeksikan membuka ratusan lapangan kerja baru dan meningkatkan nilai tambah komoditas sawit Indonesia.






